Wednesday, June 20, 2018

PP KAMMI Meminta Kapolri Menjaga Netralitas Institusi Dan Menindak Tegas Oknum Yang Bermain Politik


PP KAMMI Meminta Kapolri Menjaga Netralitas Institusi Dan Menindak Tegas Oknum Yang Bermain Politik

kammiunika, Jakarta - Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) mendesak kapolri agar institusi Kepolisian tidak bermain politik dalam pilkada 2018.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh  Ketua Umum PP KAMMI, Irfan Ahmad Fauzi, yang meminta agar Kapolri menindak tegas jajaran di bawahnya yang ikut mengintervensi proses politik yang terjadi.

“PP KAMMI mendesak Kapolri untuk menjaga netralitas institusi Kepolisian dan menindak personal-personal polisi yang ikut bermain dalam pilkada serentak 2018,” ungkap Irfan di Jakarta, Senin (18/06/2018).

Irfan mengatakan dengan adanya pejabat kepolisian yang menjadi PLT (pelaksana tugas) kepala daerah yang sedang melangsungkan proses pilkada bisa merusak demokrasi.

“Keterlibatan Jenderal Polisi sebagai PLT Gubernur bisa mencederai proses demokrasi karena seharusnya institusi kepolisian membantu pengamanan, namun ini malah terlibat dalam penyelenggara pilkada serentak 2018,” tandas Irfan.

Irfan juga memberikan peringatan kepada Kemendagri agar tidak melibatkan institusi kepolisian dalam proses suksesi kepemimpinan daerah di tahun 2018 ini.

“KAMMI meminta Kemendagri agar tidak bermain politik dengan melibatkan institusi kepolisian dalam pilkada nanti. Harusnya ada sekda yang menggantikan sebagai PLT Gubernur, namun ini Jenderal Polisi yang menjadi PLT. Ada apa dengan kemendagri dan juga kepolisian sampai-sampai ngotot ingin menjadi penyelenggara pilkada?” tegas Irfan.  (*)
Sumber: kamminews.com

Thursday, June 7, 2018

Manisnya Iman Semanis Kurma Ketika Berbuka | oleh Riadwiafriana


Sejak kecil hingga beranjak remaja, Mawar tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana serta nuansa agama yang masih belum kondusif dalam kesehariannya. Mawar tinggal bersama kedua orang tua, seorang kakak perempuan dan juga seorang adik laki-lakinya. Hingga suatu masa Mawar pun tumbuh menjadi sosok yang sering lalai karena pengaruh lingkungan dan labilnya usia remaja. Berjilbab masih sewaktu sekolah saja itupun jilbab bergo kecil dan kalau di luar sekolah masih belum berjilbab. Bahkan sering kali keluar rumah hanya bermodal kaos dan celana selutut merupakan hal yang wajar baginya. Pacaran biar dibilang gaul juga pernah walaupun tidak sampai yang kencan ke mana-mana. Tidak hanya merasa biasa dalam berbuat yang Allah tidak suka, Mawar pun kadang merasa malu untuk memulai berubah dalam memenuhi shalat lima waktunya. Takut dibilang sok alim katanya. Semua itu terjadi karena belum adanya lingkungan yang mendukung untuk memotivasi Mawar berhijrah. Di saat itu Mawar hanya sebatas tahu bahwa Allah itu Tuhan saja dan belum bisa mengenal akan kebesaran karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak hanya lalai dalam hal agama dan pergaulan, Mawar pun sempat mengalami kemerosotan akademik ditahun terakhir ia menjejak di SMP yang mana sebelum itu Mawar termasuk anak yang cukup cerdas dalam akademiknya. Tak disangka, di saat Mawar merasa sedih dengan kondisi akademiknya, ternyata Allah punya rencana awal yang lebih baik untuk dirinya.

Suatu ketika skenario indah dari Allah mulai Mawar rasakan saat menjejak sebuah Madrasah Aliyah Negeri di sebuah desa. MAN yang dulunya semasa SMP tak perah ia rencanakan, karena MAN tersebut menjadi pilihan terakhir bagi Mawar di saat hasil nilai UN SMP tidak tembus untuk mendaftar di sekolah favorit lainnya. Namun Allah Sang Maha Bijaksana selalu punya rencana yang terbaik dibalik segala keputusan yang diberikan kepada hamba-Nya. Perekonomian ayah Mawar pun lebih terasa ringan ketika Mawar memutuskan untuk memilih MAN tersebut karena biaya sekolah yang begitu murah bahkan pernah gratis dalam bayar SPP dalam beberapa bulan.
Satu hal yang saat itu perlu Mawar persiapkan ketika dia memilih melanjutkan sekolah di sana yaitu Mawar harus belajar untuk bisa memakai jilbab segi empat sesuai dengan seragam yang sudah dianjurkan sekolah, yang mana sebelum itu dia hanya bisa memakai jilbab bergo saja. Seiring berjalannya waktu satu hingga dua bulan, dimasa MAN inilah Mawar mulai punya niatan untuk mulai istiqamah berjilbab meskipun berawal dari rasa sungkan ketika dilihat orang sekitarnya.
Semenjak itu Mawar mulai berlatih untuk berjilbab ke mana-mana meskipun dengan jilbab yang masih terawang dan tidak lebar. Hingga akhirnya dalam masa berproses itu timbullah rasa nyaman dengan berjilbab dan jilbab pun sudah menjadi identitas diri Mawar, niatan Lillah Alhamdulillah mulai terasa. Dari pengalaman Mawar pertama kali berjilbab dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam memulai suatu kebaikan tidaklah harus menunggu ikhlas atau Lillah, tetapi it’s ok jika pertama niatnya karena terpaksa atau yang lain, Insya Allah niat ikhlas karena Allah baru akan terasa saat kita sudah terbiasa menjalaninya. Tidak hanya soal jilbab, semenjak itu Mawar pun mulai belajar melaksanakan shalat 5 waktu meski sering kali hampir di akhir waktu. Mawar memutuskan tak perlu lagi malu untuk dibilang sok alim ataupun aneh bagi siapa pun yang melihat perubahan yang mulai dilakukannya.
Dengan segala rutinitas agama yang menjadi agenda harian di MAN, Mawar juga mulai belajar dalam merutinkan shalat Dhuha sebisa dia hingga suatu ketika Mawar termenung merasakan sebuah rasa yang luar biasa. Rasa indah yang belum pernah Mawar alami sebelumnya, rasa rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta Semesta, rasa sadar atas Kehadiran-Nya di dalam hati yang sebelumnya belum peka. Masya Allah Alhamdulillah, itulah kali pertama Mawar mulai berhasil mengenal siapa Tuhan dia. Semenjak masa itu datanglah skenario demi skenario indah dalam hidup Mawar penuh dengan kejutan yang tak terbayangkan sebelumnya, karena di sutradarai oleh yaitu Allah Sang Sebaik-baiknya Sutradara. Hingga sering kali Mawar dibuat begitu terharu oleh skenario yang sungguh manis dari-Nya. Tidak hanya manis dalam urusan akhirat saja, Allah pun mulai memperbaiki urusan dunia Mawar termasuk kembali adanya peningkatan dalam akademik bahkan juga dalam bakat soft skill di bidang organisasi dan pengembangan minat bakat yang dimilikinya. Motivasi dari bapak ibu guru di setiap harinya juga membuat Mawar lebih bersemangat dalam merangkai asa. Beberapa prestasi dibidang akademik dan non akademik pun pernah Mawar rasakan dalam masa proses hijrahnya di aliyah. Meskipun perjalanan hijrah Mawar sewaktu aliyah belum sepenuhnya sempurna karena belum mampu berpakaian syar’i seperti yang dianjurkan untuk muslimah, Mawar begitu bersyukur atas proses yang Allah berikan kepadanya. Mawar yang semasa SMP atau kecilnya sering melakukan kegiatan yang tidak jelas dan sia-sia, kini Allah mulai membimbingnya dalam kegiatan yang lebih produktif dan mulia.
Menjadi seorang Mahasiswa, sebenarnya tidak pernah Mawar pikirkan semasa kecilnya. Namun lagi-lagi, skenario Allah lah yang menuntun Mawar mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah sewaktu dia tamat dari madrasah aliyahnya. Hal ini bermula pada suatu malam di tengah rutinitas belajar persiapan Ujian Nasional dengan polosnya Mawar berdoa kepada Rabb-Nya, lalu Mawar menulis di selembar kertas bahwa Mawar ingin bisa melanjutkan sekolah ke PTN dengan full beasiswa karena dia merasa berasal dari keluarga yang begitu sederhana. Mawar tidak ingin memberatkan beban orang tuanya. Tibalah masa pendaftaran seleksi ke PTN dan mendengar informasi mengenai beasiswa Bidikmisi, waktu itu Mawar merasa bahwa Allah mulai membuka pintu untuk menjawab doanya.
Meski dari MAN sendiri sebenarnya belum ada sosialisasi mengenai tips pemilihan jurusan dan kampus sebagai tujuan daftar seleksi PTN baik SNMPTN maupun SBMPTN 2014, Mawar tetap bersemangat dalam mempersiapkan diri menuju seleksi PTN semampunya. Hingga akhirnya, hasil dari bulir perjuangan Mawar melangkah ke jenjang seleksi PTN tersebut Allah berikan Mawar sebuah kado untuk lolos seleksi SBMPTN 2014 jalur Bidikmisi pada salah satu dari sepuluh kampus PTN terbaik di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Alhamdulillah, sebuah mimpi besar untuk bisa melanjutkan kuliah di PTN dengan full beasiswa kini menjadi sebuah ketercapaian bagi dirinya. Mawar pun menjadi orang pertama yang menikmati bangku kuliah dalam keluarga kecilnya dan menjadi siswa pertama yang lolos ujian masuk salah satu sepuluh PTN terbaik di Indonesia dari madrasah aliyahnya.
Di saat Mawar menjalani proses verifikasi sebelum resmi menjadi mahasiswa, bersama ayahnya saat itulah kali pertama ia memasuki kampus ITS Surabaya. Karena berkah dari rutinitasnya di aliyah dulu, Mawar pun mulai tidak nyaman jika melewati harinya tanpa shalat Dhuha. Hingga di waktu pagi itu, Mawar mengajak ayahnya sejenak mampir di Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menunaikan rutinitas yang sudah menjadi nutrisi baginya. Pada sujud seusai shalat Dhuha, lirih doa yang Mawar panjatkan ialah agar diberi kesempatan bersujud kembali di Masjid Manarul Ilmi dilain hari dan mampu menjadikan tempat ini sebagai sebaik-baiknya tempat di masa perkuliahan nanti, mengingat keputusan untuk benar-benar diterima sebagai mahasiswa ITS juga belum 100% saat itu. Alhamdulillah, lewat lantunan doa tersebut pada hari itu juga Mawar resmi menjadi mahasiswa ITS dan langsung mendapat kartu tanda mahasiswa. Doa Mawar pun Allah ijabah, kini Mawar semakin mampu untuk memperbaiki masa hijrahnya menjadi lebih sempurna dalam kampus ITS Surabaya. Selama menjadi mahasiswa dari zaman mahasiswa baru hingga mahasiswa lama di tahun ke empat, Mawar menjadikan Masjid Manarul Ilmi ITS sebagai tempat persinggahan favoritnya. Mawar pun tumbuh menjadi seorang aktivis dakwah hingga dia mulai nyaman dan membiasakan diri untuk berpakaian syar’i serta bersahabat dengan orang-orang yang satu visi dalam mencari ridha dari Sang Ilahi. Selain itu, Mawar juga mulai belajar menjaga dalam berinteraksi dengan lawan jenis hingga dia ingin menjadi seorang muslimah yang mampu menjaga izzah diri. Termasuk juga dengan belajar menjadi seorang aktivis dakwah, Alhamdulillah sedikit demi sedikit Mawar mulai berhasil mengajak keluarganya untuk lebih mendekat lagi kepada Sang Rabbi.
Deretan skenario terindah yang Allah berikan mampu menuntun Mawar kepada seberkas cahaya kehidupan yang bernafaskan Islam dan kebaikan. Mawar semakin percaya bahwa dengan lebih mendekat kepada-Nya, maka skenario kehidupan pun terasa mengalami perubahan yang cukup signifikan, lebih manis untuk diceritakan, serta lebih menghasilkan keberkahan dan kebermanfaatan. Karena bagi Mawar manisnya iman ketika sudah dirasakan itu seperti semanis kurma ketika berbuka puasa dan seindah cinta hakiki yang diberikan oleh Sang Maha Cinta. Tidak hanya mensyukuri atas nikmat iman yang sudah ia cicipi, Mawar pun mulai belajar untuk terus berdoa kepada Allah agar selalu diberi rahmat dan kekuatan dalam menjaga dan memperbaiki iman hingga nafas berakhir dengan khusnul khatimah di penghujung masa nanti. Hingga impian terbesar berada di Jannah untuk bertemu dengan-Nya dan Rasul-Nya pun menjadi sebuah ketercapaian paling indah yang akhirnya terealisasi. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
*Sumber:dakwatuna.com

Wednesday, June 6, 2018

Menyoal Penyusutan Jamaah Shalat Tarawih

Menurut Al-Quran, bulan Ramadhan adalah bulan mulia, disebut juga bulan yang penuh dengan keberkahan. Pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan terdapat curahan rahmat. Sepuluh hari kedua, penuh dengan ampunan dan sepuluh hari terakhir akan terbebas dari siksa api neraka bagi yang puasanya sesuai dengan tuntunan dan syariat.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran, sebagai panduan untuk umat manusia, juga tanda yang jelas untuk bimbingan dan penilaian (antara benar dan salah). Selanjutnya, sebagaimana firman Allah SWT “jika  salah seorang dari kamu mencapai bulan itu, maka ia harus berpuasa.”(Al Baqarah 185).
Secara bahasa, Ramadhan berarti “membakar”. Ramadhan, berasal dari bahasa Arab yang dasar katanya “Ramda“, “Ramad“, artinya semakin panas, karena panas yang terus menerus dan tanah yang menjadi semakin panas sedemikian rupa. Jadi Ramadhan artinya “membakar”, “untuk membakar karena berjalan  telanjang kaki  di tanah yang hangus”. Alasan mengapa bulan suci ini disebut “Ramadhan” adalah karena ia membakar dosa. Pada bulan Ramadhan, seorang muslim yang berpuasa menahan panas karena kelaparan dan haus dan panasnya puasa membakar dosa-dosa.
Ramadhan merupakan bulan ke-9 dalam kalender Islam, merupakan bulan yang paling penting dan suci bagi umat Islam. Ayat-ayat pertama Al-Quran diturunkan pada bulan ini. Kemudian, merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim untuk menunaikan puasa pada bulan ini. Allah SWT memberikan lebih banyak pahala untuk ibadah dan rahmat di bulan ini. Para fuqaha mengatakan bahwa Ramadhan adalah sebuah bulan yang berlimpah dan mulia.
Tidak sulit sebenarnya tapi juga bukan hal yang mudah bahkan bagi umat muslim yang sudah menjalankannya seumur hidup. Allah SWT memang Maha Baik dan Sempurna. Telah diturunkan bulan yang mulia sebagai bonus untuk manusia yang beriman agar menjadi pribadi yang takwa pada akhirnya. Allah SWT pun tahu batas kemampuan manusia, makanya hanya satu bulan yang diwajibkan untuk berpuasa.
Setiap bulan Ramadhan, kita akan mengamalkan ibadah shalat Tarawih; shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat Isya’. Namun, ada hal yang unik pada shalat Tarawih ini. Biasanya, di awal puasa, kita pasti langsung berbondong-bondong untuk ikut menyemarakkan ibadah itu. Semangat masih tinggi, bahkan jamaah pun membludak hingga di luar masjid. Seperti kerinduan yang meledak. Ketika bertemu, sibuklah kita dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Masjid penuh dengan jamaah shalat Tarawih, tua-muda, kaya-miskin pergi tarawihan di masjid.
Pekan pertama masih bersemangat, pekan kedua mulai berkurang. Tidak cuma jamaah wanita yang banyak halangannya, tapi juga dari jamaah pria yang tidak ada halangan wajib bulanan pun menjadi berkurang setengahnya. Seiring bertambahnya jumlah puasa yang telah kita lakukan, entah kenapa barisan shaf jamaah Tarawih semakin berkurang. Perhitungan yang sering saya perhatikan di sekeliling, kalau pada malam pertama sekitar 12 shaf, maka untuk malam kedua bisa menjadi 11 shaf. Dan itu akan terus meringsek naik hingga di akhir biasanya berakhir sampai 5 atau 4 shaf.
Memang Tarawih bukan shalat yang diwajibkan tapi menjadi pelengkap bulan Ramadhan. Apa salahnya menyempatkan waktu untuk shalat Tarawih yang cuma ada di bulan Ramadhan. Tahun depan belum tentu umur kita panjang dan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Maka benarlah hadits yang mengatakan bahwa beribadah itu haruslah dengan pemikiran akan menjadi ibadah kita yang terakhir sehingga kita akan melakukan ibadah apa pun dengan sebaik-baiknya.
Sebagian dari kita merasa bila semakin mendekati akhir Ramadhan semakin terasa berat menjalankannya, bukannya semakin terbiasa. Sahur mulai sering kesiangan. Shalat subuhpun kadang kebablasan karena ketiduran. Mulai sibuk dengan persiapan mudik. Yang di kampung pun sibuk dengan persiapan menyambut keluarga yang akan datang. Sehingga tarawihan di masjid sudah ditinggalkan karena kecapean seharian di dapur menyambut Idul Fitri. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Semua orang punya pilihan.
Semua bahkan punya alasan, bahwa kesibukan yang tidak berkurang selama Ramadhan juga termasuk ibadah. Pulang mudik untuk silaturahim pun juga ibadah. Ternyata untuk terbebas dari siksaan api neraka di sepuluh hari terakhir memang tidak mudah. Bahwa ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan pada sepuluh hari terakhir pun, tidak menjadikan kita semakin mendekat pada Lailatul Qadar. Kadang tanpa disadari, kita malah menjauhinya.
Adakah sebuah alasan khusus, kenapa ini terjadi? Mungkinkah semua wanita datang bulan semua? Atau mungkin juga bagi laki-laki, apakah karena malas atau bosan? Relakah kita melewatkan begitu saja keutamaan yang terdapat dalam shalat Tarawih? Allah SWT menegaskan akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang melakukan shalat Tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dan ridha-Nya semata. Bukan karenariya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar amal kebaikannya oleh orang lain.
Kemudian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (yakni shalat malam pada bulan Ramadhan) karena iman dan mengharap pahala dan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Tidakkah kita tergiur dengan janji Allah dan Rasulullah sebutkan.
Mengingat selalu adanya godaan dikala kita menjalankan shalat Tarawih, tetapi apa saja selalu datang dari niat. Karenanya mantapkan hati dan kuatkan niat untuk menjalankan shalat Tarawih untuk beribadah mendapatkan pahala. Lalu untuk mencegah rasa malas ketika hendak menjalankan shalat Tarawih, bisa kita awali saat berbuka hindari makan terlalu banyak dan kekenyangan. Jika terlalu kenyang maka akan mengantuk. Disarankan untuk memakan takjil saja saat berbuka dan dilanjut makan besar saat sesudah Tarawih.
Sempatkan untuk tidur siang sebentar di bulan puasa. Ini akan memberikan cukup energi untuk shalat Tarawih tanpa merasa ngantuk. Saat shalat di masjid, pilihlah tempat yang sedikit jauh dari kipas angin. Terlalu dekat dengan kipas angin akan membuat kita merasa mengantuk karena semilir udara dingin.
Kemudian, hal ini juga perlu kita perhatikan. Hindari menonton acara televisi yang paling kiat sukai. Salah satu hal yang bisa membuat kita lupa dan malas untuk melaksanakan ibadah shalat Tarawih adalah menonton acara televisi.
Dan terakhir, usahakan hindari online jejaring sosial. Virus ini biasanya menyerang anak-anak muda pada umumnya. Maraknya jejaring sosial di dunia anak muda sudah pasti membuat mereka selalu ketagihan untuk membukanya. Jika membuka socmedsetelah waktu buka puasa maka sudah pasti kita akan terus ketagihan untuk terus mengikuti apa saja yang dibicarakan dalam media tersebut. Hindari melakukan hal ini, jangan sampai hanya gara-gara hal yang kurang penting ibadah kita menjadi terbengkalai
Sumber:dakwatuna.com

Sudahkah Mencintai Al-Quran, wahai Muslim Negarawan?


Terbina dan terkontrol oleh system Al-Quran, sudah semestinya membuat kader dakwah bersyukur dapat selalu berinteraksi akrab dengan Al-Quran.

Membaca Al-Quran bukan lagi menjadi salah satu ibadah yang sangat penting akan tetapi menjadi kebutuhan pokok bagi umat muslim. Bahkan, ini merupakan perintah pertama dari Allah SWT melalui wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam Q.S Al-Alaq ayat 1 dan 5. 

Berbicara mengenai hal tersebut tentunya dan sudah seharusnya para kader dakwah khususnya kader KAMMI paham terkait urgensi membaca Al-Quran. 

Siapa yang tak mengenal KAMMI? Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Organisasi yang beranggotakan para mahasiswa muslim yang memiliki semangat mengamalkan ajaran Islam yang begitu menggelora bagai Api yang tak pernah padam. 

Kader KAMMI itu sangat pandai ketika berbicara masalah politik dan permasalahan social yang lain, fasih menawarkan solusi-solusi terhadap permasalahan kontemporer yang sulit terpecahkan. Sehari-harinya merumuskan konsep mengenai kontribusi yang akan di berikan untuk negeri ini, serta peka terhadap permasalahan umat yang ada disekitar. 

"...Bagai sebuah mata air dan tiang penyangga yang eksistensinya sangat krusial."

Masyaa Allah, ketika membaca ungkapan tersebut betapa bangganya menjadi seorang kader KAMMI. Namun tak berhenti sampai disitu, ada yang perlu ditelisik dan ditelusuri lebih dalam mengenai Mata Air dan Tiang Penyangga yang diibaratkan sebagai kader KAMMI. 

Ternyata.. tanpa kita sadari mata air dan tiang penyangga yang syahdan sangat krusial tersebut sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mata air nya keruh dan tiang penyangganya pun mulai keropos bahkan rapuh. 

Kata-kata "...Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, zikir, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat.., yang termaktub dalam kredo gerakan KAMMI pun kian hari kian luntur. 

Ironi memang, tetapi ini benar adanya. 

Keruh dan keroposnya dua hal tersebut tak ayal menandakan jiwa-jiwa yang sedang kotor dan berdebu. Sehingga terkadang ketika sedang diskusi pun tanpa disadari sering terseret arus suasana yang menggebu-gebu, saling adu argument dengan semangat menggelora hingga tanpa sengaja menyakiti hati lawan bicara.

Ternyata kuantitas kita Bersama Al-Quran belum mampu membersihkan hati yang mudah berdebu ini. Lalu, Adakah yg salah dari rutinitas yang kita lakukan ?.

Tingginya kuantitas bersama Al-Quran bukanlah sesuatu yang salah. Kuantitas bersama Al-Quran juga amatlah penting. Namun ada yang sering terlupakan yaitu mengenai kualitas. Mari bertanya dalam diri, sudahkah kita mentadaburi isi Al-Quran dan mengamalkannya? Bukankah Al-Quran adalah Pedoman dalam menjalani kehidupan dunia? Sudah sejauh mana kita mengenal Al-Quran? 

"Sebaik-baiknya di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

Memang, kita telah memasukkan aktivitas membaca Al-Quran kedalam daftar amal yaumi yang wajib dikerjakan setiap harinya. Namun daftar hanyalah sekedar daftar, bahkan terkesan sebagai formalitas amal harian seorang aktivis dakwah saat melaksanakannya hanya sekedar mengisi checklist daftar amalan yaumi.

Tak dipungkiri, urusan dunia yang padat membuat Al-Quran menjadi nomor dua, dan ketika ada kesempatan membaca hanya sekedar menyelesaikan tugas secepatnya. Yang terpenting hari ini sudah membaca Al-Quran, begitu mungkin sanggahnya.

Apakah yang demikian itu dinamakan cinta terhadap Al-Quran ?. 

Kecintaan terhadap Al-Quran memiliki beberapa tanda : 1) Hati akan sangat senang disaat membaca Al-Quran. 2) Duduk untuk membaca Al-Quran dalam waktu yang lama. 3) Rindu untuk selalu membaca Al-Quran, sesibuk apapun aktivita yang dimiliki, dia akan selalu rindu dan meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran. 4) Selalu kembali kepada Al-Quran dalam menyelesaikan permasalahan hidup. 6) Patuh dan Taat terhadap perintah yang ada di Al-Quran serta menjauhi larangan yang ada di dalamnya. 

Marilah tanyakan kepada diri, adakah minimal salah satu tanda tersebut pada diri kita? 

Sungguh beruntung orang yang mencintai Al-Quran, sebab wajahnya akan tampak jernih, bercahaya dan sedap dipandang, cinta akan memancar dari wajahnya. Sumringah dan kebahagiaan akan menghiasi wajahnya. Tak akan muncul raut wajah bermuram durja, kesumpekan, dan kekesalan. Kehadirannya bak mentari menerangi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. 

Lalu, tak inginkah tanda-tanda tersebut ada dalam diri?

Mari kita adopsi tanda-tanda tersebut dalam diri kita. Mulai saat ini libatkan lisan, akal dan hati kala membaca Al-Quran. Tugaskan lisan untuk membaca huruf secara benar. Tugaskan akal untuk memahami makna dan kandungan nya. Sedangkan tugaskan hati untuk mengambil pelajaran dan nasihat untuk dipatuhi dan ditaati.

Mengembalikan makna “ KAMMI sebagai Gerakan Dawah Tauhid dan KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik” secara utuh merupakan tugas penting sebagai kader KAMMI. Sehingga akan menghasilkan para Muslim Negarawan yang berakhlaq Al-Quran.

Masyaa Allah, Alangkah indahnya jika secara holistic hal tersebut dapat kita terapkan pada diri kita. Aamiin ya rabbalalamin.. (*)
* Putri Amelia  (Sekertaris Divisi Sosial Masyarakat PK KAMMI Al-Quds)
Sumber:kamminews.com