Saturday, May 12, 2018

KAMMI: Indonesia Butuh Presiden Berkualitas, Bukan Presiden Karbitan!


Pimpinan Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menyatakan bahwa kondisi Indonesia yang sedang dalam fase transisi dari negara berkembang menuju negara maju harus dipimpin oleh presiden yang berkualitas, bukan presiden hasil karbitan.

“Pemilihan presiden dan legislatif tahun 2019 harus menghasilkan pemimpin yang berkualitas agar kondisi Indonesia membaik,” demikian pernyataan Wakil Ketua Umum KAMMI Aza El Munadiyan, dalam keterangan tertulisnya. Selasa (08/05/2018).

Untuk menghasilkan pemimpin Indonesia yang berkualitas, KAMMI membuat sebuah gerakan Suksesi Kepemimpinan Nasional. Sebuah gerakan bersama rakyat Indonesia dalam mengawal Pilpres 2019.

“KAMMI membagi pengawalan Pilpres dan Pileg 2019 dalam tiga bagian, yaitu pengawalan penyelenggaraan pemilu, pendidikan pemilih, dan pengawalan calon presiden dan legislatif,” jelas alumni UGM ini.

Ketua Umum PP KAMMI Irfan Ahmad Fauzi menambahkan, dalam Pilpres 2019, PP KAMMI akan mengawal secara khusus.

“PP KAMMI menaruh perhatian lebih pada pemilihan Presiden Indonesia 2019-2024. Kondisi Indonesia yang semakin memburuk dalam ekonomi, politik, interaksi sosial harus segera diperbaiki. Salah satunya dengan Suksesi Kepemimpinan Nasional yang mampu menghasilkan pemimpin yang berkualitas,” ungkap Irfan.

Irfan mengatakan, KAMMI merupakan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia saat ini dengan lebih dari 30.000 anggota yang tersebar di 500 kampus di seluruh Indonesia.

Karena itu, penting bagi KAMMI untuk mengawal pesta demokrasi lima tahunan dalam rangka menghasilkan pemimpin berkualitas.

Menurut Irfan, jika rakyat tidak memperhatikan kualitas yang menjadi penilaian kelayakan seorang warga negara menjadi presiden, maka Indonesia akan menjadi negara gagal berkembang.

“Tanpa bukti kapasitas kepemimpinan seorang calon presiden, maka Indonesia akan kembali memiliki presiden karbitan,” imbuh Irfan.

Dikatakan Irfan, untuk memilih presiden yang berkualitas, bisa dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

Pertama, presiden harus mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia bukan kepentingan asing. Khususnya tentang kesejahteraan rakyat, pemerataan ekonomi, ketersediaan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan sosial.

Kedua, penegakan supremasi hukum. Selama ini hukum Indonesia masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Ketiga, kedaulatan negara dalam militer, energi, pangan dan ekonomi. Sektor strategis tersebut harus berdaulat sebagai prasyarat negara maju.

Keempat, calon presiden harus punya integritas. Kejujuran, menepati janji dan tidak mengkhianati rakyat adalah integritas yang harus dimiliki Presiden Indonesia.

“Tanpa integritas, presiden tidak akan dihargai dan dihormati oleh negara lain bahkan rakyatnya sendiri,” pungkas Irfan. (*)
Sumber:kamminews.com

Friday, May 4, 2018

Ukhti Hariana, Ketua Perempuan Pertama di Komisariat Unika


Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UNIKA menggelar kegiatan Musyawarah Komisariat ke VIII pada hari Jumat (04/05/2018) bertempat di Masjid Babul Asiat.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kader KAMMI yang ada di Mamuju diantaranya dari KAMMI Komisairat STIE MM,KAMMI Komisariat STAI Al-AZHARY Mamuju dan perwakilan dari penguus Daerah Sulawsi Barat.Tema yang diangkat dalam  Musyawarah Komisariat  VIII KAMMI Komsat UNIKA kali ini  adalah “Membangkitkan Girah pemimpin Gerakan Mahasiswa”.
Dalam kegiatan Muskom VIII KAMMI Komisariat UNIKA membahas laporan pertanggung jawaban program kerja selama satu tahun kepengurusan dan sebagai ajang untuk memilih Ketua KAMMI Komisariat UNIKA untuk masa bakti 2018-2019.
Ukhti Hariana terpilih sebagai Ketua Perempuan pertama di KAMMI Komisariat UNIKA.ukhti Hariana terpilih menggantikan Akhi Ahmad Rizan yang menjadi Kapten KAMMI Komsat UNIKA  periode sebelumnya. ukhti Hariana dinobatkan sebagai Ketua KAMMI Komisariat UNIKA yang baru berdasarkan musyawarah  Badan Pengurus Harian KAMMI Komisariat UNIKA.
Ditemui di lokasi kegiatan Hariana berharap bahwa kedepannya KAMMI Komisariat UNIKA dapat terus tumbuh menjadi organisasi yang besar dan memiliki kader yang banyak dan militan.
“Saya berharap kerjasamanya dari saudara sekalian untuk lebih bekerja keras lagi kedepannya da KAMMI dapat menjadi rumah bagi mahasiswa Muslim untuk berkarya, menambah wawasan intelektualistasnya, keagamaan, dan melatih keorganisasian yang peka terhadap  kondisi sosial masyarakat,” tutupnya.*