Wednesday, May 25, 2016

the Power of Tahajud ( kekuatan shalat tahajud )




Pada umumnya, orang hanya merasa kehilangan jika kehilangan materi: pekerjaan, jabatan, kehilangan kekayaan, kehilangan pasangan dan kehilangan lainnya yang bersifat materil. Namun, lain halnya dengan orang-orang beriman. Mereka mempunyai pandangan berbeda dari orang pada umumnya. Kehilangan yang ia rasakan ialah jika kehilangan sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata`âla yaitu: ibadah. Ada banyak kisah menarik untuk dijadikan pelajaran dari kisah ulama terdahulu berkaitan dengan masalah tersebut. Maka tidak berlebihan jika ada ungkapan yang menggambarkan kegigihan mereka dalam beribadah. Ada ungkapan: ruhbânul lail wa fursânun nahâr (menjadi seperti rahib -yang ahli ibadah- di malam hari, dan menjadi ksatria di siang hari). Karena itu sangat wajar jika salah seorang dari mereka sangat ‘kehilangan ibadah’ yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah subhânahu wata`âla jika tidak bisa menunaikannya.

Salah satu cerita ‘kehilangan ibadah’ yang membuat sedih ulama ialah ketika kehilangan kesempatan shalat tahajud lantaran tertidur. Seorang ulama salafus shâlih (ulama salaf), `Athâ` al-Khurasâni berkata: Diriwayatkan, ‘Shalat malam itu dapat menghidupkan badan, menjadi cahaya bagi hati, menjadi lentera bagi mata, menjadi kekuatan bagi anggota badan. Sesungguhnya orang bangun malam menunaikan shalat Tahajud maka ia mendapat kegembiraan dalam hatinya lantaran bisa menunaikannya. Sedangkan ketika matanya mengantuk hingga tertidur dan tak bisa menunaikan Tahajud, maka ketika (bangun) shubuh ia merasa sedih, merasa patah hati(merasa kalut) seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya’(disadur dari kitab: Mukhtashar Qiyâmul Lail, karya: Muhammad bin Nashar Al-Mawarzi, Juz: 1, Hal: 54). Perhatikan riwayat yang bergaris bawah tadi! Yang menjadi ukuran ulama salaf dalam hal `merasa kehilangan` sesuatu yang berharga, di antaranya ialah ketika tidak bisa menunaikan shalat Tahajud, karena tertidur. Mereka sangat bersedih dan merasa patah hati. Dalam perkara kehilangan ibadah sunnah saja, seperti Tahajjud mereka sangat merasa kehilangan, apalagi dalam perkara ibadah wajib? Anda bisa bayangkan. Sungguh semangat mereka dalam beribadah patut dijadikan contoh.

Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitabnya yang berjudul: Al-Tahajjudu Wa Qiyâmu Al-Laili, meriwayatkan perkataan salah satu ulama salaf yang bernama: Syuraih bin Hani. Syuraih berkata, ‘Orang (salaf) lebih mudah kehilangan (kesempatan tidur) (untuk menunaikan shalat malam)’. Ketika Abu As-Sya`tsâ akan meninggal, beliau menangis; lalu ada yang bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” lalu ia menjawab: “aku (merasa) belum puas menunaikan shalat malam”(Mausu`atul buhuts wal maqâlât ilmiyah , hal: 3). Dalam hadits dijelaskan, ketika Rasulullah luput tidak menunaikan Tahajud maka belia menggantikannRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya kebiasaan ketika tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau shalat di siang harinya sebanyak 12 rakaat.” (HR. Muslim 746). Ini artinya, Rasul pun merasa kehilangan jika tak bisa menunaikannya, sehingga menggantinya dengan shalat Dhuha 12 rakaat.
ya dengan shalat Dhuha 12 rakaat, sebagaimana hadits berikut: “

Kita mungkin akan bertanya-tanya, apa kiranya yang bisa menjawab perasaan kehilangan mereka yang begitu besar ketika tertinggal Tahajud lantaran tertidur. Satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskannya secara abstrak ialah: mereka telah merasakan, ‘halâwatul imân(manisnya iman).Tentu saja, bagi yang mau merasakan halâwatul imân, harus membiasakan diri beribadah kepada Allah, untuk memperoleh ridha-Nya. Satu-satunya jawaban konkret ialah dengan membuat keputusan cepat, untuk segera membiasakan diri menunaikan shalat Tahajud. Setelah saya merenung, mencoba, dan membiasakannya, hari ini (ketika semalam saya tidak bisa menunaikan Tahajud karena tertidur sampai Shubuh) saya benar-benar merasakan kehilangan. Seakan patah hati? Mungkin terkesan berlebihan. Tapi sekarang, anda kalau tidak percaya, silahkan mencoba! tentunya, dengan keikhlasan hati. Selamat mencoba.

Dauroh Marhalah 1 Kammi Komsat Unika

KABAR GEMBIRA

DAUROH MARHALAH 1 (Training Dasar 1) KAMMI Komisariat UNIKA MAMUJU.
Untukmu Para Mahasiswa & Mahasiswi  Islam dimanapun anda berada.
KAMMI Persembahkan untuk kalian mahasiswa Islam , sebuah agenda yang begitu luarbiasa, disini kalian akan mendapat berbagai macam hal yang bermanfaat yang InshaAllah tidak membuat anda menyesal.
Dauroh marhalah 1 KAMMI Komisariat UNIKA MAMUJU
tema: "Mencetak Generasi rabbani menuju muslim Negarawan"
Yang inshaAllah akan di adakan pada:
Hari: Jum'at-Minggu
Tanggal : 27-29 Mei 2016

Fasilitas:
1. materi yang luarbiasa
2. sertifikat
3. pengalaman
4. nambah teman baru
ayo segera daftar !!!
dengan cara:
DM 1 KAMMI UNIKA_NAMA_Universitas_Jurusan_No.HP
kirim ke:085299101765
TERBUKA UNTUK MAHASISWA ISLAM DI MAMUJU!!
‪#‎AyoGabungKAMMI‬
Wahai orang-orang yang beriman!
maukah kamu aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih, yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
(QS: As-Saff ayat: 10-11)

Tuesday, May 24, 2016

Kisah Sahabat, Adzan Terakhir Sahabat Bilal Bin Rabbah

Berikut ini adalah kisah yang sangat mengharukan dari shabat Nabi Bilal bin Rabbh ra. Semoga kisah dan artikel ini bermanfaat untuk para pembaca setia Himah kehidupan selamat membaca.
Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan
adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan. 
Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra. tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw. hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal  jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw. itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada
masa Nabi Saw. Masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara
yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra. semenjak Nabi Saw. wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi. Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra. Aamiin
 

Sunday, May 22, 2016

Aksi KAMMI Untuk Aleppo Suriah


MAMUJU, SSC KAMMI SULBAR-Serangan militer rezim Bashar al Assad terhadap Kota Aleppo Suriah yang membuat banyak korban dari warga sipil, mendapat simpati Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sulawesi Barat.
KAMMI Sulbar melakukan aksi penggalangan dana di Mamuju, Kamis 12 Mei 2016 yang lalu. Awalnya aksi digelar di Simbuang, kemudian berlanjut di jalan menuju Pasar Regional Mamuju selama tiga hari dan di tutup dengan melakukan sholat gaib dianjungan Pantai Panakarra . Aksi ini serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia.
Ketua Kebijakan Publik KAMMI Sulbar Rahmat mengungkapkan, aksi ini sebagai sikap kepedulian atas keadaan di Suriah yang membutuhkan bantuan. Hal ini akibat kebiadaban rezim tirani, rezim Bashar al Assad, Rusia dan sekutunya.
Rahmat menyebutkan, sekitar 200 anggota KAMMI di Sulbar melakukan aksi di setiap kabupaten. Aksi serentak ini merupakan respon atas pemberitaan di media sosial terkait serangan yang menelan korban jiwa sebanyak 253 orang dan 49 diantaranya adalah anak kecil dan wanita tua renta. Selain itu 300 warga lainnya mengalami luka-luka.

Saturday, May 21, 2016

Tafsir Gerakan KAMMI


Visi KAMMI
Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami.

Misi KAMMI
(1)     Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
(2)   Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
(3)    Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara.
(4)     Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
(5)     Mengembangkan kerjasama antar elemen bangsa dan negara dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).  

Kredo Gerakan
 
a.      Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
b.     Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada selain-Nya.
c.      Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
d.     Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.
e.      Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
f.      Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit yang setia, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

Prinsip Gerakan KAMMI
KAMMI bangga dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Nikmat yang tiada duanya, tiada bandingnya dan tiada yang serupa dengan kenikmatan itu. Itulah nikmat Islam dan iman. Dengan nikmat ini umat Islam harus bangga, karena ia lebih mulia dan dimuliakan. Umat Islam harus tampil berwibawa di hadapan musuh-musuh yang sudah sejak lama mereka menghinakan dan merendahkan Islam.
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derjatnya) jika kamu orang yang beriman” (QS. Ali Imran:139) Maka dengan ini KAMMI meyakini semboyan yang menjadi prinsip gerakan KAMMI bahwa
Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI

KISAH IBNU HAJAR SI ANAK BATU YANG MENJADI ULAMA BESAR

Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.
Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.
Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.
Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.
Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.
Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita sekarang ini. Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.
Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).
Catatan: “ Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu diatas bisa menjadi motivasi bagi kita semua, bahwa sekeras apapun itu dan sesusah apapun itu jika kita betul-betul ikhlas dan tekun serta continue dalam belajar niscaya kita akan menuai kesuksesan. Jangan pernah menyerah atau putus asa, karena kegagalan itu hal yang biasa, tapi jika Anda berhasil bangkit dari kegagalan, itu baru luar biasa.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).
sumber: http://www.duniaislam.org/12/04/2015/kisah-ibnu-hajar-si-anak-batu-yang-menjadi-ulama-besar/

Rasulullah sebagai Peletak Pertama Kaidah Penjaga Kesehatan

RASULULLAH Saw bersabda, “Tutuplah bejana-bejana serta tutup dan ikatlah lobang tempat air minum. Sebab, dalam setahun ada satu malam yang di dalamnya turun suatu wabah. Tidaklah wabah itu melewati suatu bejana yang tidak tertutup atau tempat air minum yang tidak terikat melainkan sebagian dari wabah itu akan turun ke dalamnya.” (HR. Muslim)
Kedokteran telah menetapkan bahwa Rasulullah sebagai peletak pertama kaidah penjaga kesehatan melalui tindakan pencegahan dari penyakit mewabah atau penyakit menular. Telah jelas bahwa penyakit menular akan menyebar pada musim-musim tertentu setiap tahunnya (mempunyai siklus tertentu).
Sebagain contoh adalah penyakit campak dan kelumpuhan pada anak-anak yang banyak terjadi pada bulan September dan oktober. Penyakit tifus banyak terjadi pada musim panas. Adapun penyakit kolera terjadi setiap tujuh tahun, sedangkan cacar setiap tiga tahun sekali.
Hal ini menjelaskan pada kita tentang keaiaban ilmiah dalam sabda Rasulullah, “Sebab, dalam setahun itu ada satu malam yang di dalamnya turun suatu wabah…” yaitu wabah musiman dan ia mempunyai waktu-waktu tertentu.
sumber: https://www.islampos.com/rasulullah-sebagai-peletak-pertama-kaidah-penjaga-kesehatan-212900/

Sejarah Singkat Berdirinya KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)



KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) adalah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa yang lahir pada tanggal 29 Maret 1998 di Universitas Muhammadiyah Malang bertepatan pada tanggal 1 Dzulhijah 1418 H. Dilatar belakangi sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia khususnya krisis kepemimpinan, maka ide dan konsep pendirian organisasi ini digagas sebagai sebuah solusi alternatif bagi permasalahan bangsa yang kemudian direalisasikan kedalam visi dan misinya, yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dalam hal moral, agama, dan intelektual.
KAMMI menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan oleh rakyat. Oleh karena itu semangat perjuangan para kadernya adalah mencerminkan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Ringkasnya, apa-apa yang diusung dan diperjuangkan oleh KAMMI, maka itulah yang sesungguhnya diharap dan dinantikan oleh rakyat Indonesia.
Dengan jargon “Muslim Negarawan”, KAMMI terus mengawal setiap kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyejahterakan rakyat. KAMMI meyakini apa yang telah dan akan dilakukan adalah suatu hal yang baik dan akan membuahkan hasil yang luar biasa.